Metode-metode Homeschooling

Apa saja sih model homeschooling ?
Bagaimana dong cara kita memilih satu model yang tepat untuk kebutuhan anak ?

Mari kita mengenal metode-metode “Homeschooling”

Praktiknya para praktisi homeschooling menggunakan beberapa metode yang berbeda dalam penerapan homeschooling pada putra-putri mereka.

School at Home

➡️ Ada yang menggunakan metode Sekolah di rumah (School at Home).

Model ini menjadikan kurikulum sekolah sebagai acuannya.
Ciri yang terlihat dari School at Home adalah;
☆ Bersifat terstruktur dan berjenjang
☆ Menggunakan kurikulum nasional ataupun kurikulum internasional
☆ Mata pelajaran kompleks seperti sekolah
☆ Menggunakan buku pelajaran/text boom sebagai sumber materi belajar
☆ Ada ujian atau evaluasi periodik

Para orangtua yang mengambil model school at home sebab sekolah adalah model pendidikan yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Juga biasanya berdasarkan pengalaman orangtua pribadi, sistem sekolah yang dianggap lebih familiar.
Sehingga memudahkan orangtua dalam menerapkan model school at home.

Unschooling

➡️ Beberapa praktisi homeschooling malah merasa nyaman menggunakan metode Unschooling.

Model homeschooling ini dipelopori oleh John Holt, pendidik asal Amerika yang mengkritik kegiatan sekolah pada pertengahan 1960 an.
Ia berpendapat bahwa sekolah tak mampu mengeluarkan potensi dan melemahkan antusiasme belajar anak.

Anak-anak menghafal banyak materi bukan karena senang dan butuh dengan ilmunya. Melainkan, takut jika mendapat nilai buruk atau tak lulus.
Inilah yang membuat John Holt mengembangkan model unschooling.
Unschooling memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan school at home.

Prinsipnya Unschooling :
☆ Keinginan belajar bersifat alami
☆ Lingkungan atau alam adalah tempat belajar yang terbaik
☆ Keterlibatan orangtua/orang dewasa secara berlebihan bisa mengganggu proses alami anak
☆ Sekalipun masih kecil, anak-anak tetaplah individu yang opini dan perasaannya perlu diperhatikan.

Berdasarkan prinsip model unschooling berjalan lebih alami dan mengikuti kebutuhan anak.
Orangtua hanya bertindak sebagai fasilitator yang menuntut anak menjadi pembelajar aktif nan mandiri.

Montessori

 Banyak juga praktisi homeschooling menggunakan metode Montessori.
Tokoh pendidikan asal Italia, Maria Montessori memiliki gagasan-gagasan unik mengenai pendidikan anak.
Gagasan ini kemudian menjadi inspirasi para orangtua dan sekolah untuk menerapkannya.

Umumnya, tata cara homeschooling dengan gagasan Montessori adalah;
☆ Anak Sebagai Subyek Pendidikan Bukan kurikulum atau guru yang menjadi pusat perhatian. Anaklah yang harus menjadi aktor utama pendidikan. Tidak perlu pengawasan ketat dari orang dewasa. Kita hanya perlu menciptakan lingkungan kondusif dan fleksibel untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran.
☆ Lingkungan Terkontrol Materi dan perangkat belajar yang digunakan disusun teratur serta disesuaikan dengan usia anak.
☆ Materi Nyata dan Imajiner Model Montesori banyak menggunakan alat peraga.
Dengan tujuan anak-anak jadi lebih mudah memahami materi pelajaran. Melalui benda nyata, barulah anak diarahkan ke contoh-contoh imajiner.
☆ Interaksi Lintas Usia Montessori tidak membagi kelas sesuai usia.

Model homeschooling ini membagi anak-anak berdasarkan kurikulum yang telah ditempuh.
Jadi, anak-anak bebas berinteraksi dengan lintas usia.️

Charlotte Mason

➡️ Tidak sedikit praktisi homeschooling lebih nyaman menggunakan metode Charlotte Mason.
Charlotte Mason adalah seorang pendidik yang peduli dengan pendidikan anak.
Ia meyakini bahwa belajar bukanlah mengurung anak dalam lingkungan buatan. •melainkan• memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam lingkungan keseharian anak
Membiarkan anak belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas.

3 hal yang mendasari model homeschooling Charlotte Mason :
☆ Kuantitas – Anak membutuhkan banyak pengetahuan
☆ Variasi – Anak membutuhkan pengetahuan yang beragam sebab materi monoton bisa mematikan hasrat belajar anak.
☆ Kualitas – Anak membutuhkan pengetahuan dan gaya belajar yang bermutu. Bukan sekedar buku teks yang penuh teori dan tak bisa diterapkan di dunia nyata.

Classical Homeschooling

➡️ Malah ada praktisi homeschooling nyaman menggunakan metode Classical Homeschooling
Dimana model ini mengacu pada model pendidikan abad pertengahan Yunani.

Classical homeschooling lebih mengedepankan studi literatur, sejarah, aktivitas intelektual yang terstruktur dan disiplin.
Materi yang diajarkan lebih banyak menggunakan karya-karya besar dari tokoh abad pertengahan.
Melakukan riset, menulis, berdiskusi dan berdebat adalah gaya belajar yang sering dipraktikkan.

Umumnya, sistem belajar homeschooling ala classical ini menekankan pada kemampuan berpikir logis dan kritis baru diajarkan pada tingkat sekolah menengah atas.
Dalam Classical Homeschooling, hal ini justru menjadi inti pembelajaran yang dilakukan sepanjang waktu.

Eclectic Homeschooling

➡️ Mayoritas praktisi homeschooling menggunakan metode Eclectic Homeschooling.
Yang mana ini merupakan model yang netral.
Sebab ianya memanfaatkan prinsip “mix and match”.
Seperti namanya, dalam metode ini orangtua cenderung menggunakannya berbagai metode homeschooling yang tergantung pada kebutuhan anak.

Daripada terhambat dengan satu filosofi atau satu metode, lebih baik mengambil sedikit dari berbagai metode.
Metode ini bersifat umum dan baik dilaksanakan jika :
☆ tidak berkeberatan untuk mencari bahan yang sesuai dengan minat anak;
☆ tidak keberatan untuk mengikuti gaya dan urutan serta tidak senang menggabung beberapa kurikulum;
☆ melihat nilai dengan menggunakan berbagai kurikulum dan metode homeschooling yang berbeda.
Karena dengan melihat banyak metode homeschooling membuat kita para orangtua bisa memilih metode terbaik bagi anak kita;
☆ memiliki anak yang fleksibel dalam melakukan pembelajaran.

Eclectic homeschooling mengambil kebaikan dan kemudahan dari tiap model, kemudian mengkombinasikannya sesuai kebutuhan atau kondisi anak dan keluarga.