Jadwal Acara Festival Sukacita Belajar

09.00 Pembukaan Acara
09.25 Pentas Seni Anak Komunitas Belajar Bersama
09.55 Seminar Apa itu Homeschooling (Sumardiono) & Legalitas Homeschooling (Ellen Kristi)
11.00 Pentas Seni Anak Komunitas KERLAP
11.25 Sukacita Pesekolah Rumah Berprestasi
13.00 Istirahat
13.30 Pentas Seni Anak Komunitas Oase
13.50 Testimoni Keluarga Homeschooling (Moi Kusman dan Keluarga)
14.50 Sharing Metode Homeschooling (Unschooling, Charlotte Mason, dan Eklektik)
16.00 Penutupan

FB_IMG_1532170827601

Panduan Menggunakan Transportasi Umum menuju ke Festival Sukacita Belajar

Alternatif solusi berlakunya aturan Pelat Ganjil Genap Kendaraan, bisa menggunakan transportasi umum untuk ke acara Festival Sukacita Belajar di TMII, besok😊

Untuk panduan naik transportasi umum ke TMII😘😘

1. Naik kereta, turun di stasiun cawang, naik tangga ke atas, langsung tunggu bus transjakarta yang ke Taman Mini pintu 1. Nunggu bus nya BUKAN di halte transjakarta cawang-cikoko, tapi langsung di halte setelah naik tangga dari stasiun Cawang.
Waktu tunggu lebih kurang 10 menit.
Turun langsung di Taman Mini dekat Gerbang Utama TMII.

2. Ada busway
jurusan Pluit-Pinang Ranti atau
Grogol-Pinang Ranti atau
Tanjung Priok-PGC turun di halte Cawang-UKI untuk transit.
Lanjutkan perjalanan naik bus langsung ke Taman Mini pintu 1 Cawang-TMII.
Tunggu busnya di area tanda huruf I (paling belakang).
Tunggu sekitar kurang lebih 10 menit.

Turun di gerbang depan Taman Mini, bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih 600 m (jika terbiasa berjalan kaki, selain sehat kalau ada spare waktu bisa selfie cantik di berbagai anjungan seperti museum Indonesia, anjungan Sumatera Selatan, anjungan Sumatera Barat serta anjungan DI Aceh).

Bisa juga naik bus mini keliling dalam taman mini dan membayar untuk pp Rp. 10.000,- sekali jalan pesan minta turunkan di Anjungan Kalimantan Barat.

Masuk TMII perorangan anak diatas 3 tahun @Rp. 15.000,-
Mobil @Rp. 15.000,-

icon

[Press Release]

Sukacita Belajar

Festival Pendidikan Berbasis Keluarga sebagai Sarana Edukasi Sekolahrumah (Homeschooling)

Festival pendidikan berbasis keluarga dengan tema Sukacita Belajar adalah kegiatan yang diadakan oleh beberapa komunitas praktisi sekolahrumah atau yang biasa dikenal dengan homeschooling. Kegiatan ini merupakan wujud dari kepedulian para praktisi homeschooling yang dalam kesehariannya masih belum mendapatkan pengakuan di masyarakat sehingga mereka harus selalu berhadapan dengan berbagai kesulitan akibat dari minimnya informasi mengenai homeschooling. Beberapa kesulitan di antaranya adalah kesalahan masyarakat dalam memahami legalitas homeschooling, praktik belajar homeschooling yang dianggap hanya bisa dilakukan oleh guru, anggapan anak homeschooling yang tidak akan punya teman dan kesulitan bersosialisasi, serta banyak hal lainnya yang mengakibatkan masyarakat memandang para praktisi homeschooling sebagai orang-orang yang ‘anti sekolah’.

Seperti peribahasa yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang, festival pendidikan berbasis keluarga ini diadakan sebagai sarana edukasi dan sosialisasi mengenai homeschooling kepada masyarakat supaya masyarakat mengenal lebih dekat apa itu homeschooling dan diharapkan dengan adanya pemahaman yang tepat, tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi di kalangan masyarakat dan praktisi homeschooling tidak lagi dipandang sebelah mata di dalam masyarakat. Selain itu festival ini juga diharapkan dapat membantu para orangtua yang sedang mencari informasi mengenai homeschooling untuk memenuhi kebutuhan belajar anaknya.

Ada apa di acara Sukacita Belajar?

6 orang anak yang menjalani homeschooling akan menceritakan perjalanan pendidikannya sampai menemukan fokus belajar yang diminatinya dan berprestasi dari ketekunan belajarnya.

Ada Yla dan Vyel, kakak beradik yang sudah menjadi atlet wushu nasional dan meraih berbagai medali dari berbagai kejuaraan nasional maupun internasional. Hanif, yang memenangkan kejuaraan robotik di Singapura.

Nuala, yang berawal dari kepedulian membantu ibunya di rumah berbuah memiliki usaha roti maryam yang sudah memiliki pasar dan produknya sudah dijual di pasar swalayan.

Hans adalah salah satu anak yang telah diperkenalkan pada beberapa kegiatan sampai akhirnya menemukan kecintaannya di bidang musik yang saat ini menjadi bagian dari kelompok paduan suara yang rutin berkompetisi dalam skala internasional.

Zaky seorang remaja yang sangat mandiri dan mencintai dunia desain digital. Keterampilannya telah membawanya sebagai salah satu desainer yang sudah dikenal di salah satu situs jual beli produk digital skala dunia.

Acara ini juga mengundang Aar Sumardiono, seorang praktisi homeschooling senior yang sering mengadakan webinar tentang homeschooling sekaligus penulis buku dan pemerhati pendidikan yang membahas tentang Apa itu Homeschooling dalam praktik kesehariannya.

Selain itu Koordinator Nasional Perkumpulan Homeschooling Indonesia (PHI), Ellen Kristi diundang untuk menjawab kepastian legalitas homeschooling dan kedudukannya di dalam sistem pendidikan Republik Indonesia.

Kemudian keluarga praktisi homeschooling senior, Wimurti Kusman dan keluarga hadir untuk memberikan testimoni perjalanan homeschooling keluarganya. Wimurti Kusman memiliki tiga orang anak yang menjalani homeschooling di mana dua di antaranya berhasil memasuki perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bahkan salah satunya mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di luar negeri.

Para praktisi senior pun berbagi informasi tentang metode homeschooling, di antaranya Charlotte Mason, Unschooling, dan Eklektik.

Selain bazar umum terdapat bazar anak sebagai kesempatan anak homeschooling untuk belajar berniaga dan memasarkan produknya sendiri, acara ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan pentas seni dari beberapa komunitas homeschooling.

Terdapat beberapa Workshop gratis untuk seluruh pengunjung yang ditawarkan oleh berbagai komunitas hobi seperti Studio Kotak Katik, Indieplays, Paradox, Clevio, Pohon Langit, Handpuppet Indonesia, Generasi Juara, Bebek (Bermain dan Belajar dengan Karya), dan Creativkids.

Acara ini diharapkan dapat diselenggarakan setiap tahunnya untuk menyosialisasikan informasi terkait jalur pendidikan informal dari para praktisi dan para ahli di bidangnya. Peran media pun sangat diharapkan untuk membantu mencapai tujuan awal dari diadakannya festival pendidikan ini, yaitu mengedukasi masyarakat mengenai pendidikan berbasis keluarga, supaya setiap anak Indonesia mendapatkan hak untuk memperoleh akses ke jalur pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

 

Simon Fauzan Priyanto

Ketua Panitia

0822 4914 7448

www.sukacitabelajar.com

Bazar Anak

Pengen mengajarkan anak untuk berwira usaha tapi ngak tau yang mau dijual apa ?
Anak Berbisnis Slime ?

Pada bazaar anak yang merupakan rangkaian acara pada Festival Sukacita Belajar :
 Minggu, tanggal 22 Juli 2018
 Anjungan Kalimantan Barat TMII
 Jam 09.00 – 16.00
Para pengunjung bisa bertemu langsung dengan Ibu Imelda Panggabean beserta putrinya Joanne.
Untuk berbagi cerita bagaimana mereka menjalani proses homeschooling nya

Joanne mulai coba bikin slime sudah 1 tahunan.
Semua karena awalnya malah karena sudah mulai kenal dapur, mengenal alat-alat perlengkapan memasak juga kocok mengocok dan ulen mengulen pas bikin pancake juga sudah bisa bantuin bikin mamanya cookies.

Pas slime mulai jadi trend, Joanne mencoba bikin.
Ada kali 10 kali atau lebih pas nyobain gagal memulu
Sampai nangis bombai 
Semua resep yang didapat (dari pinterest dan youtube) dicobain !!!

Pas gagal memulu sempet putus asa juga. Prosesnya mama Imelda terus memberikan semangat pada Joanne untuk coba lagi dan lagi dan lagi dan lagi

Pas bisa 1 kali, wah jadinya super excited, untuk mencoba terus bereksperiment memakai bahan-bahan yang berbeda. Hal tersebut membuat Joanne semakin penasaran kayak apa textur nya pas jadi…

Nah pas begini mamanya deh yang mulai membatasi Joanne untuk terus bereksperiment, soalnya berat modalnya beli bahan melulu💰💰💰

Experiment berikutnya, bikin slime ok tapi cari akal yang bisa memakai bahan-bahan semurah mungkin.
Sekarang paling suka experiment slime dicampur dengan aneka hiasan.

Joanne jadi semangat bikin untuk teman-teman atau saudara-saudaranya (terlebih yang usianya lebih kecil dari joanne) kalau lagi main ke rumahnya

Teman-teman teens ingin belajar berwira usaha untuk mengembangkan hobi crafting dan sebagainya seperti Joanne bisa formulir berikut untuk mengikuti bazaar anak pada Festival Sukacita Belajar:

 

Formulir Pendaftaran Bazar Anak:

 

Metode-metode Homeschooling

Apa saja sih model homeschooling ?
Bagaimana dong cara kita memilih satu model yang tepat untuk kebutuhan anak ?

Mari kita mengenal metode-metode “Homeschooling”

Praktiknya para praktisi homeschooling menggunakan beberapa metode yang berbeda dalam penerapan homeschooling pada putra-putri mereka.

School at Home

➡️ Ada yang menggunakan metode Sekolah di rumah (School at Home).

Model ini menjadikan kurikulum sekolah sebagai acuannya.
Ciri yang terlihat dari School at Home adalah;
☆ Bersifat terstruktur dan berjenjang
☆ Menggunakan kurikulum nasional ataupun kurikulum internasional
☆ Mata pelajaran kompleks seperti sekolah
☆ Menggunakan buku pelajaran/text boom sebagai sumber materi belajar
☆ Ada ujian atau evaluasi periodik

Para orangtua yang mengambil model school at home sebab sekolah adalah model pendidikan yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Juga biasanya berdasarkan pengalaman orangtua pribadi, sistem sekolah yang dianggap lebih familiar.
Sehingga memudahkan orangtua dalam menerapkan model school at home.

Unschooling

➡️ Beberapa praktisi homeschooling malah merasa nyaman menggunakan metode Unschooling.

Model homeschooling ini dipelopori oleh John Holt, pendidik asal Amerika yang mengkritik kegiatan sekolah pada pertengahan 1960 an.
Ia berpendapat bahwa sekolah tak mampu mengeluarkan potensi dan melemahkan antusiasme belajar anak.

Anak-anak menghafal banyak materi bukan karena senang dan butuh dengan ilmunya. Melainkan, takut jika mendapat nilai buruk atau tak lulus.
Inilah yang membuat John Holt mengembangkan model unschooling.
Unschooling memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan school at home.

Prinsipnya Unschooling :
☆ Keinginan belajar bersifat alami
☆ Lingkungan atau alam adalah tempat belajar yang terbaik
☆ Keterlibatan orangtua/orang dewasa secara berlebihan bisa mengganggu proses alami anak
☆ Sekalipun masih kecil, anak-anak tetaplah individu yang opini dan perasaannya perlu diperhatikan.

Berdasarkan prinsip model unschooling berjalan lebih alami dan mengikuti kebutuhan anak.
Orangtua hanya bertindak sebagai fasilitator yang menuntut anak menjadi pembelajar aktif nan mandiri.

Montessori

 Banyak juga praktisi homeschooling menggunakan metode Montessori.
Tokoh pendidikan asal Italia, Maria Montessori memiliki gagasan-gagasan unik mengenai pendidikan anak.
Gagasan ini kemudian menjadi inspirasi para orangtua dan sekolah untuk menerapkannya.

Umumnya, tata cara homeschooling dengan gagasan Montessori adalah;
☆ Anak Sebagai Subyek Pendidikan Bukan kurikulum atau guru yang menjadi pusat perhatian. Anaklah yang harus menjadi aktor utama pendidikan. Tidak perlu pengawasan ketat dari orang dewasa. Kita hanya perlu menciptakan lingkungan kondusif dan fleksibel untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran.
☆ Lingkungan Terkontrol Materi dan perangkat belajar yang digunakan disusun teratur serta disesuaikan dengan usia anak.
☆ Materi Nyata dan Imajiner Model Montesori banyak menggunakan alat peraga.
Dengan tujuan anak-anak jadi lebih mudah memahami materi pelajaran. Melalui benda nyata, barulah anak diarahkan ke contoh-contoh imajiner.
☆ Interaksi Lintas Usia Montessori tidak membagi kelas sesuai usia.

Model homeschooling ini membagi anak-anak berdasarkan kurikulum yang telah ditempuh.
Jadi, anak-anak bebas berinteraksi dengan lintas usia.️

Charlotte Mason

➡️ Tidak sedikit praktisi homeschooling lebih nyaman menggunakan metode Charlotte Mason.
Charlotte Mason adalah seorang pendidik yang peduli dengan pendidikan anak.
Ia meyakini bahwa belajar bukanlah mengurung anak dalam lingkungan buatan. •melainkan• memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam lingkungan keseharian anak
Membiarkan anak belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas.

3 hal yang mendasari model homeschooling Charlotte Mason :
☆ Kuantitas – Anak membutuhkan banyak pengetahuan
☆ Variasi – Anak membutuhkan pengetahuan yang beragam sebab materi monoton bisa mematikan hasrat belajar anak.
☆ Kualitas – Anak membutuhkan pengetahuan dan gaya belajar yang bermutu. Bukan sekedar buku teks yang penuh teori dan tak bisa diterapkan di dunia nyata.

Classical Homeschooling

➡️ Malah ada praktisi homeschooling nyaman menggunakan metode Classical Homeschooling
Dimana model ini mengacu pada model pendidikan abad pertengahan Yunani.

Classical homeschooling lebih mengedepankan studi literatur, sejarah, aktivitas intelektual yang terstruktur dan disiplin.
Materi yang diajarkan lebih banyak menggunakan karya-karya besar dari tokoh abad pertengahan.
Melakukan riset, menulis, berdiskusi dan berdebat adalah gaya belajar yang sering dipraktikkan.

Umumnya, sistem belajar homeschooling ala classical ini menekankan pada kemampuan berpikir logis dan kritis baru diajarkan pada tingkat sekolah menengah atas.
Dalam Classical Homeschooling, hal ini justru menjadi inti pembelajaran yang dilakukan sepanjang waktu.

Eclectic Homeschooling

➡️ Mayoritas praktisi homeschooling menggunakan metode Eclectic Homeschooling.
Yang mana ini merupakan model yang netral.
Sebab ianya memanfaatkan prinsip “mix and match”.
Seperti namanya, dalam metode ini orangtua cenderung menggunakannya berbagai metode homeschooling yang tergantung pada kebutuhan anak.

Daripada terhambat dengan satu filosofi atau satu metode, lebih baik mengambil sedikit dari berbagai metode.
Metode ini bersifat umum dan baik dilaksanakan jika :
☆ tidak berkeberatan untuk mencari bahan yang sesuai dengan minat anak;
☆ tidak keberatan untuk mengikuti gaya dan urutan serta tidak senang menggabung beberapa kurikulum;
☆ melihat nilai dengan menggunakan berbagai kurikulum dan metode homeschooling yang berbeda.
Karena dengan melihat banyak metode homeschooling membuat kita para orangtua bisa memilih metode terbaik bagi anak kita;
☆ memiliki anak yang fleksibel dalam melakukan pembelajaran.

Eclectic homeschooling mengambil kebaikan dan kemudahan dari tiap model, kemudian mengkombinasikannya sesuai kebutuhan atau kondisi anak dan keluarga.

Mampukah Kita Mewujudkan Zero Waste ?

Bebas Sampah (Zero Waste) dalam bahasa Inggris adalah filsafat yang mendorong perancangan ulang daur sumberdaya, dari sistem linier menuju siklus tertutup, sehingga semua produk digunakan kembali

Sampah yang tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan banyak penyakit, di antaranya Demam Berdarah Dangue (DBD)🕷

Pengolahan sampah yang tidak baik juga menyebabkan perubahan iklim sehingga menyebabkan kekeringan sangat parah di banyak negara karena akibat dari sampah yang menumpuk.

Perlu ada upaya lebih banyak untuk menghentikan perubahan iklim dan berbagai dampak buruk dan perilaku membuang sampah sembarang.

Menurut laporan UNEP Green Economy, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Korea dengan berbagai kebijakannya, berhasil menggalakkan program daur ulang di Negeri Ginseng itu sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja baru.

Hal tersebut dilakukan pemerintah Korea demi menciptakan masyarakat yang mampu memanfaatkan kembali sumber daya (Resource Recirculation Society).

Melatih memiliki gaya hidup masa kini yang peduli/ramah lingkungan seperti di luar negeri, yuuuk 😘😘
Festival Sukacita Belajar mengajak para pengunjung untuk bersinergi mewujudkan konsep zero waste selama acara berlangsung.

Acara minim sampah kita :

  • peserta wajib membawa kotak bekal/kotak makan dan tumbler sendiri untuk wadah makanan dan minuman (disarankan untuk tidak memakai wadah sekali pakai)
  • panitia menyediakan galon air pada beberapa lokasi strategis untuk isi ulang bobol/tumbler minum yang dibawa oleh peserta
  • peserta membawa tas belanja sendiri yang bisa dipakai berkali-kali
  • mari kita membuang sampah sesuai dengan karakteristik sampahnya (sampah organik, sampah guna ulang, sampah daur ulang, sampah residu, sampah B3/bahan beracun berbahaya)

It’s gonna be challenging 😘😎

FB_IMG_1522990273800

Donasi Sukacita Belajar

Kami menyadari Festival Sukacita Belajar dapat berjalan lancar dengan kerjasama dan perhatian dari banyak pihak. Jika Bapak, Ibu dan teman-teman berkenan untuk mendukung acara ini maka bapak ibu dapat memberikan donasi untuk acara Sukacita Belajar. Bentuk donasi dapat dipilih berikut ini :

Paket Donasi

Kami keluarga homeschooling mengucapkan terima kasih yang tak terkira kepada para donatur.
Semoga langkah kami untuk sama-sama mencerdaskan kehidupan Bangsa dapat terus terwujud.

Tujuan sama hanya jalan yang berbeda. 🙏🙏

#sukacitabelajar
#roadtosukacitabelajar

Banner_utama

Pendaftaran Sukacita Pesekolah Rumah

Sukacita Pesekolah Rumah adalah acara utama dalam kegiatan Sukacita Belajar 2018 yang akan menampilkan 6 orang pesekolah rumah yang lolos seleksi untuk membagikan proses belajarnya. Sesuai dengan tema kegiatan acara ini kami ingin menampilkan anak-anak homeschooling yang sudah menekuni kegiatannya dengan penuh sukacita dan berkarya untuk membagikan pengalamannya kepada khalayak umum sebagai pengingat bersama bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan bersama siapa saja tanpa harus terbatas ruang dan waktu.

Pendaftaran akan kami tutup tanggal 1 April 2018 dan hasilnya akan kami umumkan pada tanggal 12 April 2018 di www.sukacitabelajar.com 

Setiap anak homeschooling bisa mendaftarkan dirinya sesuai dengan syarat-syarat berikut ini:

1. Anak yang menjalani sekolah rumah (homeschooling)
2. Berusia 8-18 tahun
3. Bersedia menyajikan/mempresentasikan proses belajarnya
4. Mendapat dukungan penuh dari orang tua/walinya
5. Bersedia menjalani sesi coaching
6. Mengisi formulir di bawah ini


Klik di sini untuk mendaftar

20

Salah Kaprah Home Schooling

Sumber : www.phi.or.id

“Homeschooling-nya di mana?”
“Bayarnya berapa?”
“Gurunya datang ke rumah ya?”
“Aku titip anakku di HS-mu bisa?”

Itu beberapa pertanyaan yang sering diajukan pada keluarga homeschooler. Sepertinya masih banyak orang bingung membedakan homeschooling dalam arti sebenarnya dengan “homeschooling” sebagai nama lembaga. Padahal beda banget!

Diterjemahkan dalam Permendikbud 129/2014 sebagai “sekolahrumah”, homeschooling yang sejati nggak perlu uang pangkal atau SPP bulanan karena:

* Bayar uang pangkal dan SPP bulanan itu tanda anak mendaftar ke lembaga.

* Lembaga bimbingan belajar, kursus, dan PKBM tergolong jalur pendidikan NONFORMAL (pasal 100 ayat 2 PP 17/2010).

* Homeschooling sejatinya adalah jalur pendidikan INFORMAL, berbasis keluarga dan bukan lembaga (pasal 3 Permendikbud 129/2014).

* Homeschooling sejatinya dikelola sendiri oleh orangtua, mulai dari mengatur kurikulum sampai mengawal jadwal belajar.

Kalau baca sejarahnya, homeschooling atau home education adalah gerakan para keluarga yang mengambil kembali tanggung jawab mengelola pendidikan anak-anak mereka dari tangan lembaga.

Semangat homeschooling adalah kemerdekaan belajar. Bersama keluarga, anak belajar dengan semboyan “di mana saja, apa saja, kapan saja, dari siapa saja”.

Homeschooling adalah sebutan untuk proses belajar mandiri keluarga homeschooler. Pengelola homeschooling yang sejati tentu tak bakal menarik bayaran dari siswanya. Apa iya orangtua perlu bayar uang pangkal dan SPP anaknya ke diri sendiri?

#homeschooling #homeschooler #pendidikaninformal #sukacitabelajar #pendidikanberbasiskeluarga