20

Salah Kaprah Home Schooling

Sumber : www.phi.or.id

“Homeschooling-nya di mana?”
“Bayarnya berapa?”
“Gurunya datang ke rumah ya?”
“Aku titip anakku di HS-mu bisa?”

Itu beberapa pertanyaan yang sering diajukan pada keluarga homeschooler. Sepertinya masih banyak orang bingung membedakan homeschooling dalam arti sebenarnya dengan “homeschooling” sebagai nama lembaga. Padahal beda banget!

Diterjemahkan dalam Permendikbud 129/2014 sebagai “sekolahrumah”, homeschooling yang sejati nggak perlu uang pangkal atau SPP bulanan karena:

* Bayar uang pangkal dan SPP bulanan itu tanda anak mendaftar ke lembaga.

* Lembaga bimbingan belajar, kursus, dan PKBM tergolong jalur pendidikan NONFORMAL (pasal 100 ayat 2 PP 17/2010).

* Homeschooling sejatinya adalah jalur pendidikan INFORMAL, berbasis keluarga dan bukan lembaga (pasal 3 Permendikbud 129/2014).

* Homeschooling sejatinya dikelola sendiri oleh orangtua, mulai dari mengatur kurikulum sampai mengawal jadwal belajar.

Kalau baca sejarahnya, homeschooling atau home education adalah gerakan para keluarga yang mengambil kembali tanggung jawab mengelola pendidikan anak-anak mereka dari tangan lembaga.

Semangat homeschooling adalah kemerdekaan belajar. Bersama keluarga, anak belajar dengan semboyan “di mana saja, apa saja, kapan saja, dari siapa saja”.

Homeschooling adalah sebutan untuk proses belajar mandiri keluarga homeschooler. Pengelola homeschooling yang sejati tentu tak bakal menarik bayaran dari siswanya. Apa iya orangtua perlu bayar uang pangkal dan SPP anaknya ke diri sendiri?

#homeschooling #homeschooler #pendidikaninformal #sukacitabelajar #pendidikanberbasiskeluarga

FB_IMG_1517220284536

Workshop String Art & Decoupage Dibuka.

Ikuti Workshop String Art dan Decoupage keys holder yang akan di adakan pada tanggal 10 Febuari 2018 di One Belpark Fatmawati.

Sesi pertama:

~String art~

String art adalah seni membentuk gambar atau tulisan menggunakan benang dan paku sebagai bahan utamanya.
String art merupakan salah satu seni yang berkembang dari metode pengajaran konsep matematika.
Manfaat membuat string art bagi anak:
• Melatih kemampuan motorik halus
• ‎Melatih fokus/atensi
• ‎Melatih imajinasi
• ‎Sebagai media berekspresi

Sesi kedua :

~Decoupage keys holder~

Decoupage berasal dari bahasa Prancis, Découper , kata memotong. Decoupage adalah seni menghias suatu benda dengan menempelkan kertas tissue ke objek tersebut. Kerajinan Decoupage ini sudah populer di mancaneraga di Eropa. Tissue yang digunakan ini memang sedikit berbeda dengan jaringan yang kita temukan. Tissue ini biasa disebut Servietten,proses ini membuat pola serta gambar terlihat seolah olah dilukis pada objek yang diproses dengam tehnik decoupage.
Manfaat Kerajinan Decoupage adalah
1. Melatih ketelitian anak dan konsentrasi. Dengan meletakkan tissue di media dengan posisi persisi.
2. Melatih motorik halus anak dan kesabaran. Dari proses Anak – anak mengelem dan memberikan vernis dengan hati – hati.
3. Melatih anak untuk berkreasi tanpa batas,mendekorasi objek apa saja.

Silahkan daftar di sini :

https://goo.gl/uX8qQf

#eventanak
#liburananak
#roadtosukacita
#workshopanak
#sukacitabelajar
#homeschooling
#anakindonesia

Workshop Architecture vol. 2 – 27 Januari 2018

Penulis: Lena

Pasti memang tidak mudah ya, memperkenalkan dunia arsitektur kepada anak – anak. Butuh perjuangan sendiri memang. Yang pasti, para pengajar harus telaten, sabar dan bisa membawa materi dengan fun bersama anak – anak.

Komunitas Belajar Bersama mengisi road to Sukacita Belajar dengan workshop  Belajar Arsitektur untuk anak di One Belpark Mall Fatmawati pada tanggal 27 Januari 2018.

Pada workshop tersebut, dibagi menjadi 2 sesi. Yaitu :

 

Sesi 1 Designing 3D paper house.

Anak-anak belajar membuat rumah dari kertas. Kegiatan ini anak – anak melakukan mengunting, menempel, menghias dan membayangkan rumah dari dimensi 2 menjadi dimensi 3. Setelah itu, mereka akan belajar menata rumah-rumah agar terlihat apik berdampingan dengan rumah yang lain. Serta menghias dengan jalan raya, kolam renang, pohon, pagar dan lain – lain agar semua terlihat selaras dan sesuai dengan imajinasi anak – anak.

 

Manfaat mengikuti workshop Designing 3D paper house yaitu :

  1. Melatih Observation Skill. Anak-anak akan diajak mengenali bagian-bagian rumah, dinding, atap, lantai, pintu jendela ketika mereka menghias/mewarnainya.
  2. Melatih Analysis skill dan meningkat Geometrical Skill. Anak-anak akan diajari untuk mengenali bangun dalam bentuk 2 dimensi dan mengubah menjadi 3 dimensi.
  3. Melatih Application dan sensing skill. Anak-anak diajarkan menata rumah-rumah tersebut agar serasi dengan yang lain.
  4. Melatih motoric skill. Anak-anak dilatih untuk menggunting, melipat dan menempel.

 

Sesi 2 Tower Chalenge

 

Sebelum membuat Tower yang kuat, pengajar menjelaskan  sejarah menara, untuk apa sih fungsi menara itu, perkembangan teknik membangun menara, teknologi baru untuk kontruksi menara. Pengajar merupakan seorang arsitek profesional.

Bahan yang digunaakan  yaitu dari potongan stik es krim. Anak-anak dilatih untuk melatih kesabaran dan perhitungan  ketika mengelem anatar stik agar persisi. Setiap anak diberikan Intruksi maanual, sehingga mereka melatih pola pikir serta mampu mengembangkan logika matemtaik dalam merangkai stik menjadi menara. Setelah menara tersebut sudah jadi, anak – anak menguji seberapa kuat menahan bebannya. Ketika tes kekuatan menara, di sini saat – saat yang menegangkan dan sangat seru untuk anak – anak, karena mereka dapat mengevaluasi dan mengukur hasil karyanya.

Belajar arsitektur anak  menyenangkan bukan? Ikuti workshop – workshop berikutnya ikuti terus fan page Sukacita Belajar.

Workshop Architectural for Kids – 6 Januari 2018

Penulis: Niki Nurhayati

Workshop “Architectural for Kids”  yang dilaksanakan pada tanggal 6 Januari 2018 di One Belpark Mall merupakan salah satu rangkaian kegiatan Road to Sukacita Belajar. Narasumber pada workshop kali ini adalah dua orang arsitek dan desainer interior lulusan Universitas Indonesia, Ira Sophia (pemilik Studio Kotak-Katik) dan Simon Fauzan Priyanto.

Workshop dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama bertemakan “Night Lamp House” diperuntukkan bagi anak-anak berusia 7 tahun ke bawah. Pada sesi pertama ini, anak-anak diperkenalkan dengan elemen-elemen dasar pada bangunan sederhana (rumah), seperti lantai, dinding, atap, pintu dan jendela. Kemudian mereka dipandu untuk membuat lampu tidur berbentuk rumah dari bahan sederhana, yaitu dus (cardboard). Kegiatan melipat dan menempel bahan memberikan stimulasi untuk melatih kemampuan motorik halus anak. Selain itu, anak juga diberikan ruang untuk mengekspresikan kreativitasnya. Anak-anak dipersilakan mengecat rumahnya sesuai dengan selera masing-masing, bahkan ada juga anak yang menambahkan hiasan di sekitar rumah.

Jika pada sesi pertama diperuntukkan bagi anak-anak usia 7 tahun ke bawah, maka sesi kedua diperuntukkan untuk anak-anak yang usianya lebih besar. Tema kegiatan pada sesi kedua ini adalah “Bridge Challenge”. Pada sesi ini diperkenalkan sejarah tentang jembatan, perkembangan teknik membangun jembatan, dan teknologi baru untuk konstruksi jembatan. Proyek yang dikerjakan anak-anak pada sesi ini adalah anak-anak diminta untuk merancang dan membuat model jembatan menggunakan material craft stick. Tidak hanya membuat jembatan, tetapi jembatan yang mereka buat itu akan diuji kekuatannya. Untuk membuat jembatan yang kokoh dan kuat ternyata dibutuhkan kecermatan dan ketepatan dalam menyusun dan mengukur material. Teknik menggabungkan material pun ikut menentukan kekuatan dari jembatan.

Seru dan menyenangkan melihat anak-anak bersukacita dalam mengerjakan proyeknya. Untuk mendapatkan informasi workshop selanjutnya, silakan ikuti Facebook Fan Page Belajar Bersama.